Pendidikan Kedokteran Hewan

Cetak

Perjalanan pendidikan kedokteran hewan di Indonesia atau Program Pendidikan Kedokteran Hewan terdiri atas dua tahapan pendidikan, yaitu program pendidikan sarjana kedokteran hewan(sains veteriner) dan program pendidikan profesi dokter hewan (PPDH)(medik veteriner). Kedua program pendidikan tersebut merupakan suatu kesatuan proses dalam menghasilkan dokter hewan atau lebih tegas dikatakan bahwa terminal dari pendidikan di fakultas kedokteran hewan adalah menghasilkan dokter hewan.Program Pendikan Profesi Dokter Hewan merupakan program pendidikan lanjutan dari dari Program Pendidikan Sarjana Kedokteran Hewen (SKH) S1. Lulusan SKH dapat meraih gelar dokter hewan (drh) setelah menyelesaikan program Pendidikan Profesi Dokter Hewan.

Profesi dokter hewan merupakan keahlian khusus yang dituntut profesionalismenya melalui tindakan dan keputusan medik, memperoleh imbal jasa dan harus dapat dipercaya, yang dijamin dengan sumpah, kode etik dan perizinan dalam layanannya (UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pasal 71 ayat 4 dan Peraturan Menteri Pertanian No. 02/Permentan/OT.140/1/2010)mengamanatkan kewajiban dokter hewan untuk mematuhi Sumpah dan Kode Etik.Ilmu kedokteran hewan digunakan untuk menangani urusan mengenai hewan dan penyakit-penyakitnya (fungsi veteriner) yang berkaitan dengan jaminan keamanan (security), risiko yang dapat mengganggu kesehatan (safety) dari hewan ke hewan dan dari hewan ke manusia yang bertujuan untuk menjamin kesehatan manusia, kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan (assurance) dengan mengacu kepada pedoman dan informasi internasional, serta memperhatikan aspek kesejahteraan hewan (animal welfare). Ilmu kedokteran hewan juga mencakup penerapan ilmu medik (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan rambu-rambu profesi kedokteran hewan (kode etik dan sumpah dokter hewan).

Secara umum bidang kedokteran hewan berada dalam ranah keilmuan medis, hal ini tercermin secara nyata karena dasar ilmu yang diampu, dikembangkan serta diajarkan adalah ilmu medik/kedokteran sehingga sangat terkait dengan bidang kedokteran manusia.Menilai kinerja dokter hewan sebagai profesi khusus kedokteran dengan obyek profesinya adalah berbagai kategori hewan, harus dapat diukur profesionalismenya melalui beberapa kriteria.Seorang profesional dokter hewan dituntut untuk memadukan tiga tampilan kompetensi yaitu (1) penguasaan ilmu pengetahuan (knowledge) yang terkini (2) keterampilan yang tinggi (skill), dan (3) perilaku (attitude) etikal profesional yang disyaratkan oleh profesinya.

Dua tampilan kompetensi pertama akan menunjukkan veterinary medical performance (kinerja medis veteriner), sedangkan kompetensi ketiga akan menunjukan sikap mulia dan bermartabat dalam tanggung jawabnya memperlakukan hewan selaku pasien, manusia selaku klien dan kepada keselamatan masyarakat, bangsa dan Negara dari ancaman kesehatan bersumber hewan (ethical performance).Bila dokter hewan tidak melaksanakan fungsi dan pekerjaannya dengan konsekuen sesuai kompetensi dan rambu-rambu profesinya, maka akan dapat membencanakan kelestarian dan kesehatan ekosistem (manusia, hewan dan lingkungan).

Secara umum peningkatan ketersediaan dokter hewan di Indonesia dirasa sangat kurang.Peluang kerja sektor veteriner terbuka luas misalnya sebagai dokter hewan praktek klinik, dosen, peneliti, konsultan atau health manager pada industri peternakan.Bahkan yang lebih penting adalah kesempatan berkarya dalam aspek kesehatan masyarakat veteriner. Aspek ini menjadi semakin kompleks dengan munculnya kembali berbagai penyakit menular dari hewan atau sebaliknya, tuntutan program ketersediaan daging yang sehat pada tahun 2015, demikian pula terjadi peningkatan pemalsuan produk Pangan Asal Hewan (PAH) disebabkan karena ketatnya persaingan ekonomi, jelas memerlukan dukungan profesi dokter hewan.

Secara sosiologis, walaupun jumlah dokter hewan di Indonesia saat ini sekitar 17.000 orang di berbagai bidang kerja namun sebarannya tidak merata.Jumlah ini masih belum mencukupi dan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Melihat kenyataan ini maka problematika yang berkaitan dengan penyakit hewan termasuk penyakit zoonotik, kesehatan hewan, keamanan pangan asal hewan dan hal lain yang terkait dengan perlindungan dan kepentingan masyarakat yang memerlukan tenaga bidang kedokteran hewan merupakan tantangan yang harus direspon bagi bidang kedokteran hewan. Selanjutnya, kebutuhan tenaga dokter hewan yang mampu untuk mendukung terselenggaranya fungsi veteriner di Indonesia saat ini sangat mendesak khususnya dengan merebaknya wabah penyakit yang terkategori zoonosis yaitu penyakit menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya.

Perhitungan rasio kebutuhan jumlah dokter hewan dengan jumlah ideal saat ini memerlukan kurang lebih 500 ribu dokter hewan.Terlebih lagi dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang memberikan kesempatan masuknya tenaga dokter hewan lulusan luar negeri, maka perlu peningkatan jumlah dan kualitas profesi medik veteriner dalam memenuhi kebutuhan skala nasional. Sebagai salah satu akibat yang terjadi apabila kondisi tersebut tidak segera di respon, akan berakibat dengan permasalahan dalam pengembangan bidang veteriner yang terkait dengan penyakit hewan maupun kesehatan masyarakat. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena tidak sempat tertangani oleh tenaga profesional atau bahkan ditangani oleh ahli lain yang tidak mempunyai kompetensi medis veteriner.

Sebagai salah satu upaya peningkatan jumlah dokter hewan Indonesia dan jawaban bagi kebutuhan jumlah tenaga dokter hewan, upaya yang dilakukan adalah menambah Pendidikan Kedokteran Hewan di Indonesia.

 

VISI
Menjadi Prodi Kedokteran Hewan bereputasi Internasional di Kawasan Asia Tenggara dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran hewan bercirikan lahan kering kepulauan

MISI
1. Menyelengarakan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan berbudaya
2. Menyelenggarakan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat bidang ilmu dan teknologi kedokteran hewan yang relevan dengan perkembangan jaman serta kebutuhan wilayah dan stakeholders
3. Meningkatkan daya saing lulusan di tingkat nasional dan global